Ya, ketiganya mungkin beda maksud tetapi seling berkolerasi. Ketiga istilah tadi bisa saya sebut sebagai asosiasi tertinggi dalam manusia. Dan ketiganya bisa keluar masuk melalui satu pintu yang dinaakan mulut. Dalam kategori ngemil , makanan adalah unsur utamanya. Dari unsur ini akan diproses secara kimia dan menghasilkan enrgi bagi tubuh. Dalam kategori ini, tentulah makanan menjadi "balancer" metabolisme tubuh. Lebih tinggi dari itu makanan juga termasuk barang yang sakral. Dalam kategori ini makanan hanya dibedakan menjadi dua jenis yaitu halal dan haram, untuk penentuan kedua kelompok terebut diperlukan pengesahan religi. Dalam Islam sendiri doa sebelum makan dikaitkan dengan surga dan neraka. Sehingga dalam pemikiran saya apa yang masuk dalam tubuh kita akan menjadi penilaian juga di hari akhir kelak. Dengan demikian cemilan merupakan sebuah hasil dari kompleksitas berbagai macam aspek kebudayaan yang meloloskan bahan makanann menjadi makanan.Jadi memang benar jika koalisi mulut-perut ini juga melahirkan banyak cerita dalam sejarah. Diogenes seorang filsuf terkenal berkata : ‘Jika engkau sudah belajar hidup dengan makan ubi, engkau tidak perlu lagi menjilat raja.’ Dari sini bisa petik jika sudah makan makanan sederhana, maka kita tidak perlu lagi menjilat raja untuk makan enak. Jadi mari kita perhatikan apa yang kita makan..!!! Apapun gerakan hidup manusia sebetulnya tidak jauh dari koalisi mulut dan perut.
Selanjutnya adalah ngomel atau berkata untuk bahasa lebih halusnya. Omelan menurut penulis merupakan pancaran energi dan pikiran yang ada dalam tubuh kemudian dikeluarkan melalui mulut. Lagi-lagi pintu utamanya adalah mulut. Ucapan yang benar merupakan 8 jalan utama dalam agama budha. sehingga ada beberapa kriteria ucapan tersebut dianggap benar, diantaranya benar, beralasan, berfalsafah, dan tepat pada waktunya. "Since that time “speech act theory” has been influential not only within philosophy, but also in linguistics, psychology, legal theory, artificial intelligence, literary theory and many other scholarly disciplines ". Mengutip kata- kata dari Ernest Hemingway bahwa Orang memerlukan dua tahun untuk berbicara, tetapi limapuluh tahun untuk belajar tutup mulut. Dari sini bisa dilihat bahwa diam atau tutup mulut lebih sulit dari pada belajar berbicara.Apa lgi jika itu dilakukan dalam keadaan marah, tentulah menjadi hal yang sangat mustahil. Seperti kata Aris Toteles "Marah itu semua orang bisa, namun marah kepada siapa, dengan kadar marah yang pas, pada saat dan dengan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu merupakan hal yang sulit". jadi dalam marah pun kita tetap harus memperhatikan kata-kata yang akan dikeluarkan. Janganlah ada ucapan kotor karena hanya akan menambah cela dan kekurangan serta mendatangkan dosa saja. Karena dalam perbuatan marah tdak menjadi pertimbangan khusus untuk mengucapkan kata-kata celaan.
Dengan terbiasa menjadi pabrik kata positif tentunya itu akan menjadi amalan tersendiri. Ngamal adalah istilah bahasa jawa yang berarti "perbuatan" dalam bahasa Indonesia. Sehingga dengan ngamal tersebut kita menjadi bahagia karena sudah patut dan sesuai dengan fitrahnya, karena tindakan yang patut adalah yang memaksimalkan penggunaan yang biasanya didefinisikan sebagai memaksimalkan kebahagiaan dan mengurangi penderitaan. Yang berarti berguna, bermanfaat, berfaedah, atau menguntungkan. Jadi mari kita lakukan hal yang selaras dari berbagai kegiatan tadi. semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar