Darurat Pustaka di Kota Pendidikan
Fajar
hampir pasti selalu menyiratkan suasana yang positif. Sederet bukti mengenai
hal tersebut adalah kecenderungan sebagian orang akan semangat bekerja ketika
fajar terbit hingga kemudian berhenti ketika matahari pindah ke barat. Sehingga
semakin wajar jika di pagi hari, rasa positif dan harapan baru akan selalu hadir
dalam benak manusia. Namun ketika saya
membaca tentang berita”Karta Pustaka” ditutup, aura positif pagi rasanya ada
yang hilang. Apalagi lembaga nirlaba yang ditutup berada di kota
saya yang selalu bangga dengan sebutan “Kota Pendidikan” yang sekarang berusaha
mewujudkan untuk menyandang gelar baru sebagai “kota
Filosofi”. Dari kacamata saya euphoria “Dana Keistimewaan” yang untuk
memberdayakan budaya berubah menjadi pesimis. Bukankah disetiap sudut sekolah
siswanya selalu diminta “Budayakan Untuk Membaca”?? bahkan ada iklan ditelevisi
yang menayangkan hal tersebut. Pikiran saya mulai bertanya jika lembaga pustaka
saja tutup, lalu bagaimana mereka yang disebut siswa mendapatkan gudang
pengetahuan?? Memang hanya “Karta
Pustaka” yang ditutup, namun bukankah itu bisa menjalar ke lembaga pustaka yang
lain???bukankah selalu ada kemungkinan tersebut??
Saya kutip
pernyataan kecewa dari mereka yang pernah mendapat pencerahan pengetahuan
melalui lembaga ini dalam harian Kompas, 4 Desember 2014 di halaman pertama ..”Sungguh ini peristiwa mengejutkan.
Sepertinya kita ditinggalkan sahabat yang mati mendadak,” Kata budayawan
Landung Simatupang. Banyak yang miris akan hal ini termasuk saya, namun saya bisa
berbuat apa. Saya hanya bisa meminta kepada Alloh Tuhan saya…semoga kelak ada “Karta Pustaka” junior, dan
jangan ada lembaga pustaka yang tutup lagi karena tidak berdaya “. Permintaan
yang saya ajukan ini dalam pandangan saya wajar, karena perintah yang pertama diturun
dalam kepercayaan yang saya anut adalah “Iqro”.
Walau Memang penutupan ini bukan akhir dari alam intelektual kita apa lagi tidak
akan melepaskan predikat Yogyakarta sebagai kota
pendidikan, akan tetapi saya berharap bisa menjadi pintu dialog untuk berkeluh
kesah kepada mereka yang masih peduli. Dan saya optimis jika Kota Yogyakarta
memang berpredikat kota Pendidikan tentu saja warga di dalamnya juga akan
membantu, sehingga Lembaga Pustaka yang
ada di Yogyakarta bahkan Indonesia bernafas lebih panjang, yang warisannya
kelak anak cucu mendapatkan haknya belajar di lembaga pustaka yang dimana
kakek-neneknya dulu mendapat ilham pengetahuan. Maafkan kami semua ya Alloh jika penutupan
lembaga pustaka ini dianggap sebagai kesalahan dari perintah “iqro” yang telah Engkau firmankan untuk
kebaikan manusia. “Luki F”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar