Rabu, 03 Desember 2014

Darurat Pustaka

Darurat Pustaka di Kota Pendidikan



            Fajar hampir pasti selalu menyiratkan suasana yang positif. Sederet bukti mengenai hal tersebut adalah kecenderungan sebagian orang akan semangat bekerja ketika fajar terbit hingga kemudian berhenti ketika matahari pindah ke barat. Sehingga semakin wajar jika di pagi hari, rasa positif dan harapan baru akan selalu hadir dalam benak manusia.  Namun ketika saya membaca tentang berita”Karta Pustaka” ditutup, aura positif pagi rasanya ada yang hilang. Apalagi lembaga nirlaba yang ditutup berada di kota saya yang selalu bangga dengan sebutan “Kota Pendidikan” yang sekarang berusaha mewujudkan untuk menyandang gelar baru sebagai “kota Filosofi”. Dari kacamata saya euphoria “Dana Keistimewaan” yang untuk memberdayakan budaya berubah menjadi pesimis. Bukankah disetiap sudut sekolah siswanya selalu diminta “Budayakan Untuk Membaca”?? bahkan ada iklan ditelevisi yang menayangkan hal tersebut. Pikiran saya mulai bertanya jika lembaga pustaka saja tutup, lalu bagaimana mereka yang disebut siswa mendapatkan gudang pengetahuan?? Memang hanya  “Karta Pustaka” yang ditutup, namun bukankah itu bisa menjalar ke lembaga pustaka yang lain???bukankah selalu ada kemungkinan tersebut??

Saya kutip pernyataan kecewa dari mereka yang pernah mendapat pencerahan pengetahuan melalui lembaga ini dalam harian Kompas, 4 Desember  2014 di halaman pertama ..”Sungguh ini peristiwa mengejutkan. Sepertinya kita ditinggalkan sahabat yang mati mendadak,” Kata budayawan Landung Simatupang. Banyak yang miris akan hal ini termasuk saya, namun saya bisa berbuat apa. Saya hanya bisa meminta kepada Alloh Tuhan saya…semoga kelak ada “Karta Pustaka” junior, dan jangan ada lembaga pustaka yang tutup lagi karena tidak berdaya “. Permintaan yang saya ajukan ini dalam pandangan saya wajar, karena perintah yang pertama diturun dalam kepercayaan yang saya anut adalah “Iqro”. Walau Memang penutupan ini bukan akhir dari alam intelektual kita apa lagi tidak akan melepaskan predikat Yogyakarta sebagai kota pendidikan, akan tetapi saya berharap bisa menjadi pintu dialog untuk berkeluh kesah kepada mereka yang masih peduli. Dan saya optimis jika Kota Yogyakarta memang berpredikat kota Pendidikan tentu saja warga di dalamnya juga akan membantu, sehingga  Lembaga Pustaka yang ada di Yogyakarta bahkan Indonesia bernafas lebih panjang, yang warisannya kelak anak cucu mendapatkan haknya belajar di lembaga pustaka yang dimana kakek-neneknya dulu mendapat ilham pengetahuan.  Maafkan kami semua ya Alloh jika penutupan lembaga pustaka ini dianggap sebagai kesalahan dari perintah “iqro” yang telah Engkau firmankan untuk kebaikan manusia. “Luki F”
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar